Penyelenggaraan ibadah haji merupakan salah satu peristiwa keagamaan terbesar di dunia yang melibatkan jutaan jemaah dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Kepadatan populasi, mobilitas tinggi, serta interaksi intensif antar jemaah selama rangkaian ibadah di tanah suci meningkatkan risiko penyebaran penyakit terutama penyakit infeksi menular, termasuk MERS-CoV. Kondisi tersebut menjadikan musim haji sebagai periode yang memerlukan peningkatan kewaspadaan dari berbagai pihak terutama dari otoritas kesehatan.
Meskipun tidak selalu terjadi lonjakan kasus yang signifikan setiap tahun, potensi penyebaran tetap ada, terutama dengan meningkatnya arus perjalanan internasional pasca pandemi global sebelumnya. Hal ini diperkuat oleh fakta bahwa sebagian besar jemaah haji berasal dari kelompok usia dewasa dan lanjut usia yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap infeksi dan komplikasi penyakit. Faktor risiko lain yaitu adanya penyakit penyerta atau komorbid pada jemaah haji, dan kurangnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, penting untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap MERS-CoV menjelang dan selama musim haji 2026. Upaya promotif, preventif, serta responsif harus dilakukan secara terpadu guna melindungi kesehatan jemaah dan mencegah potensi penyebaran penyakit lintas negara.
Apa itu MERS-CoV?
Middle East Respiratory Syndrome (MERS) adalah penyakit yang menginfeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus corona (MERS-CoV). Gejala yang ditimbulkan bervariasi, mulai dari ringan seperti flu hingga gangguan pernapasan berat yang dapat berujung pada kematian.
Kasus MERS pertama kali diidentifikasi di Arab Saudi dan Yordania pada tahun 2012. Sejak saat itu, 27 negara anggota WHO telah melaporkan kasus MERS-CoV sesuai dengan ketentuan International Health Regulations (IHR 2005), dengan 84% dari semua kasus manusia dilaporkan oleh Arab Saudi. Hingga 21 Desember 2025, total 2.635 kasus infeksi MERS-CoV yang dikonfirmasi laboratorium telah dilaporkan secara global kepada WHO, dengan 964 kematian terkait. Mayoritas kasus ini terjadi di negara-negara di Semenanjung Arab, termasuk 2.224 kasus dengan 868 kematian terkait (CFR 39%) yang dilaporkan dari Arab Saudi.
MERS-CoV merupakan penyakit zoonosis, yaitu dapat menular antara hewan dan manusia. Manusia dapat tertular MERS-CoV melalui berbagai jalur penularan, jalur utama adalah melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan unta dromedari, yang berfungsi sebagai inang alami virus dan reservoir zoonosis utama. Selain itu, penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui droplet pernapasan yang menular terutama dalam situasi kontak dekat dan juga dapat terjadi melalui kontak langsung atau tidak langsung.
Gejala MERS-CoV
MERS dapat muncul tanpa gejala (asimptomatik), gejala ringan (termasuk masalah pernapasan ringan), atau gejala pernapasan akut hingga kematian. Masa inkubasi penyakit biasanya 2-15 hari (rata-rata 5 hari).
Gejala umum meliputi:
Pada kasus tertentu, pasien dapat mengalami pneumonia. Risiko keparahan lebih tinggi dapat terjadi pada lansia, individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, dan penderita penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit ginjal, kanker, atau gangguan paru.
Diagnosis MERS-CoV
Awalnya, penyedia layanan kesehatan perlu menanyakan tentang riwayat kesehatan. Jika sudah terjangkit, pengidap akan ditanyakan perkiraan kapan terpapar MERS, termasuk perjalanan dan kontak terakhir dengan orang lain. Hal ini juga termasuk tentang kontak terakhir dengan unta. Ada beberapa tes yang bisa dilakukan, seperti:
Selain itu, uji laboratorium juga bisa dilakukan untuk memastikan MERS, yaitu:
Pengobatan MERS-CoV
Belum ada vaksin ataupun obat yang dapat digunakan untuk menyembuhkan MERS. Perawatan dari penyakit ini dilakukan untuk membantu tubuh dalam melawan penyakit tersebut. Hal ini disebut juga dengan perawatan suportif, yang berfokus pada pengelolaan gejala berdasarkan tingkat keparahan penyakit.
Komplikasi MERS-CoV
Pada beberapa kasus, MERS dapat menyebabkan gejala yang lebih parah atau komplikasi. Hal ini lebih berisiko untuk orang yang sudah berumur atau lansia, memiliki sistem kekebalan yang lemah, serta mengidap penyakit kronis. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi, antara lain:
Pencegahan MERS-CoV
Pencegahan yang bisa dilakukan agar tidak terjangkit MERS, yaitu sebagai berikut:
Upaya Peningkatan Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan terhadap MERS-CoV pada musim haji tahun ini perlu dilakukan melalui beberapa langkah berikut:
Pemeriksaan kesehatan menyeluruh bagi calon jemaah haji menjadi langkah awal untuk mendeteksi risiko penyakit. Edukasi terkait MERS-CoV, termasuk cara penularan dan pencegahannya, harus diberikan secara intensif agar jemaah memiliki pemahaman yang cukup.
2. Penerapan Protokol Kesehatan
Jemaah diimbau untuk selalu menerapkan protokol kesehatan, seperti:
3. Perlindungan Kelompok Rentan
Jemaah dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, atau gangguan pernapasan memerlukan perhatian khusus. Konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum keberangkatan sangat dianjurkan untuk memastikan kondisi tetap stabil.
4. Penguatan Surveilans dan Respons Cepat
Identifikasi dini pasien dengan ISPA/ ILI (Influenza like Illness) baik ringan maupun berat yang terduga terinfeksi MERS. Petugas kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan melalui pemantauan gejala pada jemaah serta kesiapan dalam melakukan deteksi dini dan penanganan kasus. Sistem pelaporan yang cepat dan akurat menjadi kunci dalam mencegah penyebaran lebih lanjut.
5. Edukasi Pasca-Kepulangan
Setelah kembali ke tanah air, jemaah tetap perlu memantau kondisi kesehatannya. Jika mengalami gejala seperti demam, batuk, atau sesak napas, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dan melaporkan riwayat perjalanan.
Keberhasilan pencegahan MERS-CoV tidak hanya bergantung pada individu jemaah, tetapi juga memerlukan kolaborasi lintas sektor. Kementerian Kesehatan, penyelenggara haji, serta petugas kesehatan di lapangan harus bekerja sama dalam memastikan standar kesehatan diterapkan secara optimal. Peningkatan kesiapsiagaan terhadap MERS-CoV merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan ibadah haji yang aman dan sehat. Dengan langkah pencegahan yang tepat, edukasi yang berkelanjutan, serta kesadaran jemaah untuk menjaga kesehatan, risiko penularan dapat diminimalkan. Ibadah haji pun dapat dilaksanakan dengan lebih tenang, aman, dan khusyuk tanpa mengabaikan aspek kesehatan.

Penulis : dr. Anak Agung Istri Rasmi Dewi | Editor : Ni Gusti Made Dwi Kurnianingsih, SKM