Pneumonia tidak selalu berawal dari kontak dengan orang yang sedang sakit. Pada legionellosis, sumber masalah justru dapat tersembunyi di dalam sistem air. Bakteri Legionella dapat berkembang pada air yang hangat dan tergenang, kemudian menyebar melalui aerosol dari shower, spa, cooling tower, air mancur, atau sistem perpipaan gedung. Bila terhirup, bakteri ini dapat menyebabkan penyakit Legionnaires, suatu pneumonia yang dapat menjadi berat, terutama pada kelompok rentan. Bagi Bali yang memiliki mobilitas wisata tinggi dan banyak fasilitas akomodasi, pelayanan kesehatan, serta bangunan dengan sistem air kompleks, kewaspadaan terhadap penyakit ini menjadi semakin relevan.
Mengenal Legionellosis
Ketika mendengar pneumonia, kita biasanya langsung membayangkan infeksi yang menular melalui batuk atau percikan saluran napas. Legionellosis sedikit berbeda. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dari genus Legionella—terutama Legionella pneumophila—yang hidup di lingkungan berair dan dapat berkembang biak di dalam sistem air buatan. Masalah muncul ketika air yang terkontaminasi berubah menjadi percikan sangat halus atau aerosol, lalu terhirup ke saluran napas. Shower, cooling tower, spa, sistem perpipaan gedung, air mancur, hingga perangkat pelembap udara dapat menjadi sumber paparan apabila tidak dikelola dengan baik.[1]
Legionellosis dapat muncul dalam dua bentuk. Bentuk yang lebih ringan disebut demam Pontiac, dengan gejala menyerupai influenza dan umumnya membaik dengan sendirinya. Bentuk yang lebih serius adalah penyakit Legionnaires, yaitu pneumonia yang dapat berkembang cepat dan menimbulkan demam, batuk, sesak napas, sakit kepala, nyeri otot, dan rasa lemah. Sebagian pasien juga mengalami diare atau kebingungan. Masa inkubasinya umumnya sekitar 2–10 hari. Risiko penyakit berat lebih tinggi pada orang berusia di atas 50 tahun, perokok, penderita penyakit paru kronis, diabetes, penyakit ginjal, keganasan, serta orang dengan daya tahan tubuh yang menurun.[1]
Bagaimana Penularannya?
Yang perlu dipahami, Legionella tidak menyebar seperti influenza atau COVID-19. Penularan terutama terjadi ketika seseorang menghirup aerosol air yang mengandung bakteri, atau ketika air yang terkontaminasi masuk ke saluran napas melalui aspirasi. Penularan langsung dari orang ke orang bukanlah pola utama. Karena itu, upaya pencegahan tidak cukup hanya berfokus pada pasien; sumber lingkungan juga harus dicari dan dikendalikan. Pengelolaan suhu air, sirkulasi yang baik, pembersihan kerak dan biofilm, desinfeksi, serta pemeliharaan fasilitas seperti cooling tower, shower, spa, dan reservoir merupakan bagian penting dari pencegahan.[1][6]
Gambaran Epidemiologi Tiga Tahun Terakhir (2023–2025)
Menilai besarnya masalah legionellosis secara global tidak sesederhana menghitung kasus yang dilaporkan. Kemampuan diagnosis dan sistem surveilans berbeda-beda antarnegara. Di wilayah dengan fasilitas laboratorium dan pelaporan yang baik, kasus lebih mudah ditemukan; sementara di tempat lain penyakit ini mungkin tidak terdiagnosis atau tercatat sebagai pneumonia biasa. WHO menyebut legionellosis terjadi di seluruh dunia, tetapi angka kejadian yang sebenarnya masih sulit dipastikan.[1]
Tabel Gambaran Epidemiologi Legionellosis Tahun 2023–2025

Peningkatan jumlah kasus yang terdeteksi juga perlu dibaca secara proporsional. Sebagian kenaikan dapat mencerminkan surveilans yang semakin baik, akses pemeriksaan laboratorium yang lebih luas, serta meningkatnya kewaspadaan tenaga kesehatan. Meski demikian, angka tersebut tetap memberi pesan penting: Legionella bukan penyebab pneumonia yang hanya relevan di luar negeri. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan melakukan rapid risk assessment pada 25 Agustus 2025 dan menilai risiko penambahan kasus legionellosis di komunitas umum sebagai tinggi. Penilaian ini menjadi dasar untuk memperkuat kewaspadaan dan kesiapsiagaan nasional.[6]
Apakah Legionellosis Dipengaruhi Musim?
Ya, penyakit Legionnaires dapat menunjukkan pola musiman, meskipun musim bukan satu-satunya faktor yang menentukan terjadinya kasus. Di negara beriklim sedang, kasus lebih sering ditemukan pada musim panas hingga awal musim gugur. Pada 2024, misalnya, sekitar 57% kasus yang dilaporkan di Uni Eropa/European Economic Area terjadi antara Juni dan Oktober.[3] Pola ini berkaitan dengan kondisi lingkungan yang lebih mendukung Legionella. Cuaca hangat dan lembap dapat membantu bakteri bertahan dan berkembang di lingkungan air, sementara curah hujan juga ditemukan berhubungan dengan peningkatan risiko. Sebuah penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa risiko penyakit Legionnaires meningkat pada kondisi hangat dan sangat lembap; curah hujan juga menjadi faktor risiko secara independen.[12]
Untuk wilayah tropis seperti Indonesia, termasuk Bali, pola musimnya kemungkinan tidak setegas di negara empat musim karena suhu hangat dan kelembapan relatif tinggi dapat terjadi hampir sepanjang tahun. Pengalaman di Singapura, yang memiliki iklim tropis dan banyak bangunan dengan sistem pendingin air, menunjukkan bahwa kelembapan tinggi dan peningkatan curah hujan dapat menambah risiko legionellosis, sementara pengoperasian sistem pendingin sepanjang tahun dapat mendukung kolonisasi Legionella pada sistem air.[13] Namun, data surveilans Indonesia saat ini masih terbatas untuk menyimpulkan adanya pola musim legionellosis yang spesifik. Karena itu, kewaspadaan di Bali sebaiknya tidak hanya difokuskan pada musim hujan. Periode dengan curah hujan dan kelembapan tinggi tetap layak mendapat perhatian lebih, tetapi pemeliharaan sistem air dan kewaspadaan terhadap kasus pneumonia perlu dilakukan sepanjang tahun.
Apakah Kasus Pernah Terjadi di Indonesia dan Bali?
Jawabannya: pernah. Jejak legionellosis di Indonesia sebenarnya sudah tercatat cukup lama, meskipun laporan pada masa lalu masih terbatas. Sebuah publikasi di Health Science Journal of Indonesia menyebut adanya laporan kasus di Bali pada 1996 dan Tangerang pada 1999.[7] Pada 1998, otoritas kesehatan Australia juga melaporkan dua kasus legionellosis pada pelancong yang baru kembali dari Bali. Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada otoritas kesehatan di Bali untuk penyelidikan lebih lanjut.[9]
Pada periode 2010–2019, Kementerian Kesehatan kembali menerima laporan kasus pada wisatawan mancanegara yang didiagnosis setelah pulang dari perjalanan di Indonesia, terutama setelah berkunjung ke Bali dan Jawa Barat.[10] Gambaran yang lebih jelas mulai terlihat ketika surveilans sentinel nasional diperkuat. Pada 2023, kasus konfirmasi pada warga negara Indonesia mulai teridentifikasi. Hingga Minggu Epidemiologi ke-42 tahun 2024, Kemenkes melaporkan 10 kasus konfirmasi, terdiri atas 8 kasus di Jawa Barat dan 2 kasus di Bali. Pada periode yang sama tercatat 75 kasus suspek melalui surveilans sentinel, yakni 49 di Jawa Barat dan 26 di Bali.[5] Pada September 2025, Kemenkes menegaskan bahwa kasus konfirmasi sejak 2023 telah ditemukan di sembilan kabupaten/kota pada tiga provinsi, termasuk Kota Denpasar dan Kabupaten Badung di Bali.[6]
Bagi Bali, temuan ini penting karena karakter wilayahnya sangat terkait dengan perjalanan dan pariwisata. Hotel, resort, spa, kolam air hangat, rumah sakit, gedung besar, dan bangunan dengan cooling tower menggunakan sistem air yang kompleks dan melayani banyak orang setiap hari. Bila pengelolaannya tidak optimal, fasilitas semacam ini dapat menjadi tempat berkembangnya Legionella. Tantangannya, gejala tidak selalu muncul saat seseorang masih berada di Bali. Karena masa inkubasi dapat berlangsung beberapa hari, wisatawan bisa baru sakit setelah kembali ke daerah atau negaranya. Inilah sebabnya riwayat perjalanan, tempat menginap, penggunaan spa atau fasilitas air, dan waktu mulai munculnya gejala menjadi informasi yang sangat penting dalam penyelidikan epidemiologi.
Diagnosis, Tata Laksana, dan Kewaspadaan Klinis
Secara klinis, penyakit Legionnaires dapat tampak seperti pneumonia pada umumnya. Gejala yang sering muncul meliputi demam, batuk, sesak napas, sakit kepala, nyeri otot, serta rasa lemah atau mudah lelah. Pada sebagian penderita juga dapat muncul gejala saluran pencernaan seperti mual, muntah, atau diare, bahkan kebingungan terutama pada kasus yang lebih berat. Keluhan biasanya mulai muncul sekitar 2-10 hari setelah seseorang terpapar bakteri Legionella. Karena gejala tersebut tidak khas dan dapat menyerupai pneumonia akibat penyebab lain, gambaran klinis maupun radiologi saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan laboratorium tetap diperlukan, antara lain melalui urinary antigen test (UAT), kultur, atau pemeriksaan molekuler dari spesimen saluran napas.[1][11]
Kewaspadaan terhadap legionellosis terutama perlu ditingkatkan pada pasien dengan pneumonia berat, khususnya apabila disertai faktor risiko seperti usia di atas 50 tahun, kebiasaan merokok, penyakit paru kronis, atau kondisi yang menurunkan daya tahan tubuh. Tenaga kesehatan juga perlu menggali riwayat paparan dalam beberapa hari sebelum munculnya gejala, termasuk perjalanan, menginap di hotel atau penginapan, menjalani perawatan di fasilitas kesehatan, menggunakan spa atau jacuzzi, serta paparan terhadap sistem air yang berpotensi menghasilkan aerosol. Apabila penyakit Legionnaires dicurigai atau telah terkonfirmasi, pemberian antibiotik yang efektif terhadap Legionella perlu dilakukan sesuai kondisi klinis pasien dan pertimbangan dokter. Kasus yang berat dapat memerlukan perawatan di rumah sakit, bahkan dukungan pernapasan apabila terjadi pneumonia berat atau komplikasi. Sebaliknya, demam Pontiac umumnya bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri tanpa antibiotik. Deteksi dan pengobatan yang cepat penting untuk mengurangi risiko penyakit berat dan kematian.[4][11]
Pencegahan: Kendalikan Risiko dari Sistem Air
Sampai saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah legionellosis. Karena itu, pencegahan paling efektif dilakukan dengan menjaga sistem air tetap aman. Prinsipnya sederhana: jangan memberi kesempatan bagi bakteri untuk tumbuh dan menyebar. Sirkulasi air harus terjaga, genangan dan stagnasi perlu dicegah, kerak serta biofilm dibersihkan, desinfeksi dilakukan dengan benar, dan fasilitas seperti cooling tower, reservoir, shower, spa, jacuzzi, air mancur dekoratif, humidifier, serta mesin pembuat es perlu dipelihara secara berkala.[1][6]
Penutup
Legionellosis mengingatkan kita bahwa ancaman penyakit infeksi tidak selalu datang dari orang lain. Dalam kasus ini, sumber paparan justru dapat berada di balik fasilitas yang kita gunakan sehari-hari—mulai dari shower hingga sistem air sebuah gedung. Data tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa kasus terus terdeteksi di berbagai negara dan bukti keberadaan penyakit ini di Indonesia semakin kuat. Bali pun bukan wilayah yang bebas dari risiko. Dengan mobilitas wisata yang tinggi dan banyaknya fasilitas dengan sistem air kompleks, kewaspadaan klinis perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan lingkungan. Mengenali pneumonia yang tidak biasa, menanyakan riwayat perjalanan dan paparan, memperkuat kemampuan diagnosis, serta menjaga keamanan sistem air merupakan langkah yang penting agar kasus sporadis tidak berkembang menjadi klaster yang lebih besar.
" PESAN KEWASPADAAN. Legionellosis perlu masuk dalam pertimbangan pada pasien dengan pneumonia berat, terutama bila pasien berusia lebih tua, merokok, memiliki penyakit kronis atau gangguan imunitas, serta mempunyai riwayat perjalanan, menginap di hotel, dirawat di fasilitas kesehatan, atau terpapar sistem air berisiko dalam sekitar 2–10 hari sebelum gejala muncul. Untuk Bali, tingginya mobilitas wisata membuat kewaspadaan klinis dan pengendalian risiko lingkungan perlu dilakukan secara bersamaan. "
Oleh : dr. Riza Edwin Kurniawan| Editor : Ni Gusti Made Dwi Kurnianingsih, SKM
Sumber Utama
[1] World Health Organization. Legionellosis – Fact Sheet. 6 September 2022.
[2] European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC). Legionnaires’ disease – Annual Epidemiological Report for 2023.
[3] European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC). Legionnaires’ disease – Annual Epidemiological Report for 2024. Published 27 May 2026.
[4] Kementerian Kesehatan RI, Infeksi Emerging. Legionellosis. Pembaruan 12 Maret 2025.
[5] Kementerian Kesehatan RI. Situasi Penyakit Infeksi Emerging, Minggu Epidemiologi ke-42 Tahun 2024.
[6] Kementerian Kesehatan RI. Surat Edaran Nomor SR.03.01/C/3730/2025 tentang Kewaspadaan dan Kesiapsiagaan terhadap Kejadian Legionellosis, 12 September 2025.
[7] Moehario LH, Robertus T, Grace Y, Tjoa E. Screening of Legionella pneumophila from water sources in the hospitals in Jakarta. Health Science Journal of Indonesia. 2019;10:21–26.
[8] World Health Organization. Disease Outbreak News: Legionellosis – Poland. 14 September 2023.
[9] Australian Department of Health and Aged Care. Legionellosis and recent travel to Bali. Communicable Diseases Intelligence. 3 September 1998.
[10] Kementerian Kesehatan RI. Frequently Asked Questions (FAQ) Legionellosis.
[11] U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Clinical Guidance for Legionella Infections. Updated 9 June 2025.
[12] Simmering JE, Polgreen LA, Hornick DB, Sewell DK, Polgreen PM. Weather-Dependent Risk for Legionnaires’ Disease, United States. Emerging Infectious Diseases. 2017;23(11):1843–1851.
[13] Lam MC, Ang LW, Tan AL, James L, Goh KT. Epidemiology and Control of Legionellosis, Singapore. Emerging Infectious Diseases. 2011;17(7):1209–1215.