Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) sebagai Unit Pelaksana Teknis dalam bidang kekarantinaan kesehatan melaksanakan tugas dan fungsi sesuai yang diamanatkan dalam Permenkes No. 9 Tahun 2023 yaitu pengawasan penyakit dan faktor risiko kesehatan pada alat angkut, orang, barang, dan lingkungan. Pengawasan penyakit dan faktor risiko kesehatan dilaksanakan melalui pengamatan dan/atau pemeriksaan fisik serta dokumen karantina kesehatan terhadap alat angkut, orang, barang, dan lingkungan untuk mendeteksi keberadaan penyakit dan faktor risiko kesehatan serta mengidentifikasi kelengkapan peralatan kesehatan.
Pengawasan penyakit dan faktor risiko kesehatan pada orang sebagaimana dimaksud merupakan pelaksanaan pemeriksaan dokumen karantina kesehatan serta pengamatan dan pemeriksaan pelaku perjalanan, baik orang sehat maupun orang sakit, saat kedatangan dan keberangkatan, serta masyarakat di lingkungan bandar udara, pelabuhan, dan pos lintas batas darat negara. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pengawasan penyakit dan faktor risiko kesehatan pada orang yaitu pengawasan kru pesawat/anak buah kapal (ABK) melalui deteksi dini pemeriksaan penyakit tidak menular termasuk pemeriksaan tekanan darah.
Pengawasan penyakit dan faktor risiko kesehatan pada kru pesawat/ABK dilaksanakan sebagai bagian penting dalam memastikan awak alat angkut berada dalam kondisi fisik dan mental yang optimal dalam melaksanakan tugas. Salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Penyakit ini sering disebut sebagai “silent killer” karena kerap tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat menyebabkan komplikasi serius secara tiba-tiba hingga kematian.
Menurut World Health Organization (WHO), hipertensi terjadi ketika tekanan darah berada pada angka 140/90 mmHg atau lebih dan berlangsung secara menetap. Banyak penderita tidak menyadari dirinya mengalami hipertensi karena kondisi ini sering berkembang tanpa keluhan yang jelas.
Hipertensi dan Risiko pada Awak Alat Angkut
Profesi awak alat angkut termasuk pilot dan nahkoda, memiliki tuntutan pekerjaan yang tinggi dan tanggung jawab besar terhadap keselamatan perjalanan serta penumpang. Kondisi kerja tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi apabila tidak diimbangi dengan pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Beberapa faktor risiko hipertensi yang umum ditemukan pada awak alat angkut antara lain:
1. Stress Kerja Tinggi
Pilot dan nahkoda dituntut untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat dalam berbagai situasi, termasuk saat menghadapi cuaca buruk, kondisi darurat, maupun permasalahan operasional. Tekanan kerja yang berlangsung terus-menerus dapat memicu stres berkepanjangan yang berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah.
2. Jam Kerja Tidak Teratur
Sistem kerja bergilir (shift), perjalanan jarak jauh, serta jadwal kerja yang tidak menentu dapat mengganggu ritme biologis tubuh. Pada pilot, penerbangan lintas zona waktu dapat menyebabkan jet lag, sedangkan nahkoda sering menjalani masa kerja yang panjang di laut sehingga waktu istirahat menjadi terbatas.
3. Kurang Tidur dan Kelelahan
Kurangnya waktu istirahat dapat meningkatkan hormon stres serta mengganggu regulasi tekanan darah. Kelelahan kronis pada awak alat angkut juga dapat mempengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
4. Pola Makan Tidak Sehat
Konsumsi makanan tinggi garam, makanan instan, makanan kaleng, atau makanan cepat saji selama perjalanan dapat meningkatkan risiko hipertensi. Jadwal makan yang tidak teratur juga dapat mempengaruhi metabolisme tubuh dan kesehatan secara keseluruhan.
5. Kurangnya Aktivitas Fisik
Aktivitas kerja yang didominasi oleh posisi duduk dalam waktu lama, baik di kokpit maupun anjungan kapal, serta keterbatasan ruang gerak selama bertugas dapat menyebabkan kurangnya aktivitas fisik. Kondisi ini berisiko meningkatkan berat badan dan tekanan darah.
6. Kebiasaan Merokok dan Konsumsi Kafein
Sebagian awak transportasi menggunakan rokok atau minuman berkafein untuk menjaga kewaspadaan saat bekerja. Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan tekanan darah dan memperberat kerja jantung.
7. Konsumsi Alkohol
Pada beberapa individu, konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah dan memperbesar risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
8. Faktor Usia dan Riwayat Keluarga
Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia. Selain itu, faktor genetik atau riwayat keluarga dengan hipertensi juga menjadi faktor risiko hipertensi
9. Obesitas atau Berat Badan Berlebih
Berat badan berlebih meningkatkan beban kerja jantung dan berhubungan erat dengan tekanan darah tinggi.
10. Lingkungan Kerja
Pilot dan nahkoda juga menghadapi faktor lingkungan seperti: kebisingan mesin, getaran, perubahan cuaca, tekanan kerja tinggi, serta kondisi kerja yang terkadang terbatas.
Paparan jangka panjang terhadap faktor-faktor tersebut dapat memicu stres fisiologis yang berkontribusi terhadap hipertensi. Pada pilot dan nahkoda, hipertensi tidak hanya berdampak pada kesehatan pribadi, tetapi juga dapat mempengaruhi keselamatan operasional. Banyak penderita hipertensi tidak menyadari gejalanya dan mungkin tidak menyadari adanya masalah. Gejalanya dapat meliputi sakit kepala di pagi hari, mimisan, irama jantung tidak teratur, gangguan penglihatan, dan telinga berdengung. Gejala yang lebih parah meliputi kelelahan, mual, muntah, kebingungan, kecemasan, nyeri dada, dan tremor otot. Kondisi tersebut tentu sangat berbahaya apabila terjadi saat mengoperasikan alat angkut. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol atau tidak tertangani dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal, stroke, penyakit jantung, dan pembuluh darah.
Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Kelaikan
Pemeriksaan kesehatan kelaikan awak alat angkut bertujuan untuk memastikan seseorang layak menjalankan tugas operasional secara aman. Pada pilot dan nahkoda, pemeriksaan kelaikan secara rutin dilaksanakan untuk memastikan kondisi kesehatan pilot dan nahkoda dalam keadaan prima untuk menjalankan tugas operasional. Pemeriksaan ini umumnya meliputi: pengukuran tekanan darah, pemeriksaan jantung, pemeriksaan penglihatan dan pendengaran, evaluasi kebugaran fisik, serta penilaian kondisi kesehatan secara menyeluruh.
Deteksi dini hipertensi sangat penting karena banyak kasus baru diketahui saat pemeriksaan kesehatan berkala. Dengan pemeriksaan rutin, kondisi tekanan darah dapat dipantau sehingga risiko komplikasi dapat dicegah lebih awal.
Di sektor penerbangan dan pelayaran, pengendalian hipertensi menjadi salah satu perhatian dalam pemeriksaan medis awak transportasi. Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi status kelaikan kerja seseorang demi menjaga keselamatan operasional. BBKK Denpasar turut serta melakukan pemeriksaan terhadap kru pesawat maupun ABK kapal sebagai bentuk pengawasan penyakit dan faktor risiko kesehatan terhadap orang di bandara maupun pelabuhan.
Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi
Pencegahan dan pengendalian hipertensi pada awak alat angkut tidak hanya dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan dan penilaian kelaikan secara berkala, tetapi juga melalui penerapan gaya hidup sehat. Upaya tersebut meliputi pengaturan pola makan dengan membatasi konsumsi garam, gula, serta makanan tinggi lemak, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, dan menjaga kecukupan asupan cairan tubuh.
Selain itu, aktivitas fisik atau olahraga secara teratur, pengelolaan stres yang baik, serta istirahat dan tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga tekanan darah tetap normal. Awak alat angkut juga dianjurkan untuk menghindari kebiasaan merokok, konsumsi minuman beralkohol, serta membatasi asupan kafein secara berlebihan.
Bagi individu yang telah terdiagnosis hipertensi, kepatuhan dalam mengkonsumsi obat sesuai anjuran dokter dan melakukan kontrol kesehatan secara rutin sangat penting untuk menjaga tekanan darah tetap terkendali. Dengan pengelolaan yang baik, risiko komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal dapat diminimalkan sehingga keselamatan dan kinerja awak alat angkut tetap terjaga.
Oleh : dr. Anak Agung Istri Rasmi Dewi | Editor : Ni Gusti Made Dwi Kurnianingsih, SKM