Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

      Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Denpasar

berakhlak bangga melayani bangsa

  •   Selasa, 21 Juli 2026

PENGENDALIAN TIKUS SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT PES DI KAPAL LAUT


Penyakit pes (plague) adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penyakit ini terutama ditularkan melalui gigitan kutu yang menginfeksi hewan pengerat, tetapi juga dapat menular melalui kontak dengan hewan terinfeksi atau percikan droplet pada beberapa kasus. Penyakit pes disebut juga dengan black death karena infeksi bakteri Yersinia pestis menyebabkan gejala fisik berupa bercak-bercak atau benjolan kehitaman di bawah kulit. Secara umum, penyakit pes terbagi ke dalam tiga jenis utama, yaitu: 

  1. Bubonic plague, paling sering ditemukan dan menyerang kelenjar getah bening sehingga menimbulkan pembengkakan

  2. Septicemic plague, infeksi yang terjadi ketika bakteri berkembang biak di dalam aliran darah sehingga dapat menyebabkan sepsis. 

  3. Pneumonic plague, infeksi yang menyerang paru-paru. Bentuk ini paling berbahaya karena dapat menular secara langsung antarmanusia melalui percikan droplet saat penderita batuk atau bersin.

Kasus pes yang paling sering terjadi di seluruh dunia adalah Bubonic plague. Jenis ini menyumbang sekitar 80-90% dari keseluruhan kasus dan menyebar melalui gigitan pinjal (kutu) yang terinfeksi bakteri Yersinia pestis, biasanya berasal dari hewan pengerat, seperti tikus.

 

Penularan Penyakit Pes di Kapal

Kapal merupakan salah satu alat angkut yang berpotensi menjadi media masuk dan berpindahnya tikus maupun pinjal apabila sanitasi tidak dikelola dengan baik. Penularan penyakit pes di kapal dapat terjadi melalui beberapa mekanisme sebagai berikut:

  • Melalui gigitan pinjal. Penularan paling umum terjadi saat pinjal yang sebelumnya menggigit hewan pengerat (seperti tikus) yang terinfeksi pes, kemudian menggigit manusia di dalam kapal laut.

  • Kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Tikus atau hewan pengerat yang terinfeksi dapat terbawa ke dalam kapal melalui celah-celah kapal, kargo, atau bagasi, dan menularkan bakteri melalui kontak langsung.

  • Penularan antarmanusia. Pada kasus pneumonic plague, bakteri dapat menyebar melalui droplet yang dikeluarkan penderita saat batuk atau bersin sehingga berpotensi menularkan penyakit kepada penumpang maupun awak kapal lainnya.

 

Peran Tikus dalam Penularan Penyakit Pes di Kapal

Tikus memiliki peran ganda dalam penularan penyakit pes di kapal, yaitu sebagai reservoir alami dan sebagai pembawa vektor penular. Peran tikus dalam rantai penularan pes meliputi:

  • Sebagai reservoir. Tikus dan hewan pengerat lainnya menjadi tempat hidup bakteri Yersinia pestis sehingga bakteri dapat tetap bertahan di alam.

  • Sebagai inang pinjal. Pinjal terutama Xenopsylla cheopis, hidup pada tubuh tikus dan memperoleh bakteri saat mengisap darah tikus yang terinfeksi.

  • Sebagai penghubung penularan ke manusia. Ketika tikus mati atau populasi tikus berkurang, pinjal akan mencari inang lain, termasuk manusia. Pada saat menggigit, pinjal dapat menularkan bakteri Yersinia pestis melalui luka gigitan.

Semakin tinggi populasi tikus di kapal, semakin besar potensi terjadi penularan penyakit pes. Peningkatan populasi tikus umumnya dipengaruhi oleh kondisi sanitasi yang kurang baik, ketersediaan sumber makanan, penumpukan sampah, serta adanya celah yang memungkinkan tikus masuk dan berkembang biak di dalam kapal.
 

 

Upaya Pengendalian Tikus Sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Pes

Salah satu strategi terbaik dalam pencegahan penularan penyakit pes di kapal adalah dengan pengendalian populasi tikus. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan populasi tikus antara lain:

1. Pengendalian Mekanis.

Pengendalian mekanis bertujuan mencegah masuknya tikus ke dalam kapal sekaligus mengurangi sumber makanan dan tempat persembunyiannya, antara lain dengan:

  • Simpan makanan dengan benar: Letakkan semua bahan makanan, terutama biji-bijian, di dalam wadah yang terbuat dari bahan keras, tertutup rapat, dan tidak bisa ditembus oleh gigitan tikus.

  • Manajemen sampah ketat: Buang sisa makanan ke dalam kantong sampah tebal dan tempat sampah tertutup. Jangan biarkan sampah menumpuk di area palka atau dek terbuka.

  • Tutup celah dan lubang: Periksa dan tutup celah di dinding, lantai, langit-langit, dan sekat kapal menggunakan material anti-tikus seperti jaring kawat baja atau semen.

  • Pasang pelindung tali (rat guard): Pasang pelindung berbentuk piringan pada semua tali tambat yang menghubungkan kapal ke dermaga. Ini mencegah tikus memanjat naik ke atas kapal.

  • Pemeriksaan kargo dan logistik: Memastikan barang bawaan atau kargo bebas dari potensi sarang tikus dan kutu sebelum proses pengiriman.

  • Pemasangan perangkap dan lem tikus: Tempatkan perangkap dan lem tikus di area yang sering dilalui tikus, seperti ruang mesin, gudang, dan area dapur. Pastikan untuk memeriksa dan mengosongkannya secara berkala.

 

*Pemasangan rat guard sebagai pencegahan tikus masuk ke kapal

 

2. Pengendalian Kimiawi

Pengendalian kimiawi dilakukan apabila diperlukan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kesehatan, antara lain melalui:

  • Gunakan racun tikus (rodentisida), baik yang akut maupun antikoagulan. Penempatan harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak mencemari bahan makanan.

  • Tindakan fumigasi di kapal: proses pengendalian dan pembasmian hama (tikus dan serangga) di dalam area kapal. Tindakan ini menggunakan gas fumigan khusus di ruangan kedap udara.

 3. Pengendalian Terpadu

Pengendalian terpadu merupakan kombinasi berbagai metode pengendalian secara berkesinambungan, meliputi perbaikan sanitasi, pengelolaan sampah, penutupan akses masuk tikus, penggunaan perangkap, serta tindakan kimiawi apabila diperlukan. Pendekatan ini dinilai paling efektif karena tidak hanya mengurangi populasi tikus, tetapi juga mencegah munculnya kembali tikus di lingkungan kapal.

Kapal yang bebas dari tikus adalah kunci pencegahan penyakit pes. Konsistensi dalam menjaga sanitasi dan membatasi akses tikus adalah wujud nyata perlindungan bagi seluruh anak buah kapal dan penumpang dari ancaman penyakit pes.
 

Oleh : Ni Wayan Sri Suharyati, SKM  l  Editor : Putu Ayu Merry Antarina, SKM, M.Kes

Berita Lainnya

end_script -->
Skip to content