Oleh: Putu Suardyana, SKM.
Hari Kesehatan Nasional (HKN) merupakan momentum yang mengingatkan bangsa Indonesia bahwa perjuangan menuju masyarakat sehat bermula bukan dari rumah sakit mewah, melainkan dari semangat gotong royong rakyat melawan penyakit dan kemiskinan. Kesehatan bukan hanya urusan medis, melainkan cermin peradaban bangsa. Pandangan inilah yang menjadi semangat awal lahirnya Hari Kesehatan Nasional (HKN), yang setiap tahun diperingati pada 12 November.
Akar sejarah Hari Kesehatan Nasional
Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, pemerintah Indonesia menghadapi tantangan besar, di tengah perang mempertahankan kemerdekaan, wabah penyakit merebak di mana-mana. Malaria, kolera, dan pes menjadi momok yang menewaskan ribuan jiwa setiap tahun, pada saat itu pelayanan kesehatan masih sangat terbatas, hanya segelintir rumah sakit peninggalan kolonial yang beroperasi, dan kebanyakan di kota besar. Di tengah keterbatasan itu, muncul gagasan besar dari tokoh kesehatan Indonesia yakni dr. Johannes Leimena, sebagai Menteri Kesehatan pertama setelah kemerdekaan. Beliau memperkenalkan konsep “social medicine” atau kedokteran sosial, gagasan bahwa kesehatan harus menjadi gerakan sosial, bukan hanya urusan dokter dan rumah sakit. Menurut dr. Johannes Leimena, kesehatan masyarakat adalah tanggung jawab moral bangsa dan beliau menyampaikan bahwa pembangunan nasional tidak akan berhasil tanpa rakyat yang sehat, kuat, dan berpendidikan. Bersama tokoh lain seperti dr. Raden Mochtar dan dr. Marzuki Mahdi, mulai membangun sistem pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Dari sinilah fondasi sistem kesehatan Indonesia mulai terbentuk, juga digagas pembangunan puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) sebagai pelayanan primer di tingkat desa, konsep yang kemudian menjadi identitas unik sistem kesehatan Indonesia hingga kini.
Disisi lain pada akhir 1950-an, tantangan terbesar bangsa adalah malaria. Penyakit ini menyerang jutaan orang, terutama di wilayah pedesaan. Pemerintah menilai bahwa perang melawan malaria bukan sekadar masalah medis, tetapi pertarungan untuk mempertahankan kualitas hidup rakyat. Tahun 1959, di bawah arahan dr. Johannes Leimena, dibentuk Dinas Pembasmian Malaria yang kemudian berkembang menjadi Komando Operasi Pembasmian Malaria (KOPEM). Program ini menjadi gerakan nasional melibatkan ribuan tenaga kesehatan dan masyarakat. Strateginya meliputi penyemprotan DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane) ke rumah warga, pemberian obat kina, serta pengeringan rawa tempat berkembang biaknya nyamuk Anopheles. Puncak gerakan itu terjadi pada 12 November 1959, ketika Presiden Soekarno secara simbolis menyemprotkan DDT di Kalasan, Yogyakarta. Aksi itu menandai dimulainya Gerakan Nasional Pemberantasan Malaria, tonggak sejarah yang kemudian dikenang sebagai cikal bakal Hari Kesehatan Nasional. Gerakan ini tidak hanya berhasil menekan angka malaria secara signifikan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kesehatan adalah perjuangan bersama. Dalam lima tahun, diperkirakan lebih dari 63 juta warga Indonesia terlindungi dari ancaman malaria.
Penetapan Hari Kesehatan Nasional 12 November 1964
Peristiwa penyemprotan di Kalasan memiliki makna simbolis yang lebih dalam. Bagi Soekarno, pemberantasan malaria bukan sekadar urusan medis, tetapi bagian dari revolusi bangsa menuju kemerdekaan sejati.
“Bangsa yang sehat adalah bangsa yang merdeka sepenuhnya,” demikian pesan Presiden Ir. Soekarno dalam pidato yang kini sering dikutip dalam peringatan HKN. Tahun 1964, pemerintah menetapkan 12 November sebagai Hari Kesehatan Nasional. Tujuannya bukan hanya mengenang keberhasilan pemberantasan malaria, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran nasional akan pentingnya kesehatan sebagai modal pembangunan.
Sejak saat itu, HKN menjadi momentum refleksi dan evaluasi pembangunan sektor kesehatan. Pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat memperingatinya dengan kegiatan sosial, pengabdian masyarakat, serta kampanye edukatif tentang gaya hidup sehat.
Artikel ini disadur dari :