Menurut World Health Organization (WHO) 2006, antraks merupakan penyakit zoonosis yang sangat berbahaya bagi hewan dan manusia, sehingga penting adanya strategi yang baik dalam menanggulanginya. Prevalensi kejadian penyakit antraks di Indonesia cukup tinggi. Kejadian antraks menyebar sejak tahun 1884-2001 dan saat ini terdapat 11 provinsi yang dinyatakan sebagai daerah endemis antraks meliputi Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Jambi, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Papua. Kejadian Luar Biasa (KLB) pada tahun 2023, Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan menerima laporan dari Puskesmas Gondosari yang menyatakan dugaan KLB Antraks kulit terjadi pada salah satu warga Dusun Ngemplak, Desa Tinatar. Hasil investigasi menemukan 25 ternak mati dan 12 kasus antraks pada manusia dengan 100% gejala yang sesuai dengan antraks kulit. Pada tahun 2025, wabah antraks di Indonesia terkonsentrasi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Dilaporkan sebanyak 23 ekor sapi dan 3 ekor kambing mati mendadak dan positif terinfeksi bakteri Bacillus anthracis. Dari kejadian tersebut, 3 orang terkonfirmasi positif antraks dan puluhan warga lainnya sempat dipantau.
Penyebab
Anthraks adalah penyakit hewan menular yang disebabkan oleh bakteri/kuman Anthraks (Bacillus anthracis). Bakteri golongan gram positif, aerob, dan membentuk spora yang terletak di sentral sel bila cukup oksigen. Dalam jaringan tubuh penderita ataupun bangkai yang tidak dibuka, kuman selalu berselubung dan tidak pernah berspora karena tidak cukup oksigen. Anthraks dapat menyerang berbagai jenis hewan berdarah panas diantaranya hewan pemamah biak, seperti kambing, domba, sapi, kerbau, juga pada babi, kuda, rusa, burung unta, dan satwa liar lainnya. Sedangkan hewan berdarah dingin secara alami kebal dan tidak bisa terinfeksi penyakit antraks. Penyakit ini tergolong zoonosis dapat menular dari hewan penderita ke manusia.
Gejala pada Hewan
Gejala Pada Manusia
Antraks Kulit
|
Muncul pada 2 hingga 7 hari setelah melakukan kontak dengan hewan yang sakit antraks maupun spora antraks. Adapun gejalanya seperti kelainan kulit biasanya terjadi di bagian tubuh yang terbuka seperti kaki, tangan, leher, dan wajah, serta munculnya eschar atau jaringan hitam pada kulit. |
2. Antraks Saluran Pencernaan
|
Antraks ini bisa menyebabkan kematian dan pada umumnya gejala akan muncul pada 2 sampai 5 hari setelah mengkonsumsi daging hewan yang terinfeksi spora antraks Adapun beberapa gejalanya yaitu: demam, gangguan menelan, mual, diare, muntah, pembekakan pada leher dan dada, sakit perut hebat, muntah dan BAB berdarah, serta perut bengkak. |
3. Antraks Pernapasan
|
Sama dengan antraks saluran pencernaan, antraks pernapasan juga bisa menyebabkan kematian. Adapun beberapa gejalanya seperti: demam, lemah, batuk kering, sesak nafas, dan denyut jantung cepat. |
Penularan
Melalui kontak antara kulit dengan hewan atau produk hewan yang mengandung spora kuman anthrax (anthrax bentuk kulit).
Terhirupnya spora ke dalam saluran pernafasan pada saat menangani produk hewan seperti kulit dan bulu yang mengandung spora kuman anthrax (Anthrax bentuk pernafasan).
Memakan produk pangan asal hewan yang mengandung spora kuman anthrax (anthrax bentuk pencernaan).
Antraks hanya dapat menular dari hewan ke manusia dan tidak bisa menular antar manusia.
Diagnosis
Diagnosis anthraks oleh dokter dilakukan jika ada gejala yang muncul, riwayat kontak dengan hewan ternak, dan riwayat konsumsi daging yang kurang matang. Untuk mendeteksi apakah ada infeksi bakteri penyebab anthraks dalam tubuh atau tidak, beberapa pemeriksaan yang biasanya dilakukan adalah:
Tes darah: pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri dalam darah.
Tes kulit: dilakukan dengan mengambil sampel cairan dari kulit yang melepuh. Lepuhan kulit juga bisa menjadi jalan masuk bakteri penyebab anthraks.
Rontgen dada: pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat adanya kelainan paru-paru atau tidak. Sebab, bisa jadi anthraks terjadi akibat spora yang terhirup dari udara.
Pemeriksaan feses: dilakukan untuk mengecek apakah ada bakteri anthraks dalam feses yang dikeluarkan tubuh.
Pemeriksaan pungsi lumbal: pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengambil sampel cairan saraf tulang belakang.
Pengobatan Antraks
Anthraks dapat diobati menggunakan antibiotik. Kondisi ini akan lebih mudah sembuh jika penanganan dilakukan secepatnya. Dokter akan memberikan kombinasi antibiotik, seperti penisilin, doxycycline, dan ciprofloxacin (floxigra). Perlu diketahui bahwa tingkat keberhasilan pengobatan anthraks tergantung pada usia, kondisi kesehatan pasien secara umum, dan luas area tubuh yang terinfeksi.
Komplikasi Antraks
Jika tidak segera diobati, anthraks dapat menyebabkan peradangan pada selaput otak dan tulang belakang (meningitis). Kondisi ini dapat menimbulkan perdarahan hebat yang berujung pada kematian. Komplikasi berat lainnya mencakup syok septik, sindrom gangguan napas akut (Acute Respiratory Distress Syndrome/ARDS), efusi pleura masif, asites, dan kegagalan multiorgan.
Pencegahan Anthraks
Anthraks dapat dicegah dengan menghindari faktor-faktor yang dapat memicu penularannya. Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah:
Tidak mengonsumsi daging hewan ternak yang sudah mati
Memastikan bahwa daging telah dimasak hingga matang sebelum dimakan
Memberikan vaksin anthraks kepada seluruh hewan ternak yang sehat jika memiliki peternakan
Menggunakan alat pelindung yang cukup ketika kontak dengan hewan yang terinfeksi anthrax.
Praktik pencegahan yang harus dibudayakan pada masyarakat, terutama untuk daerah endemis di Indonesia yaitu:
Jangan menyembelih atau mengonsumsi hewan yang mati mendadak sebelum mendapat pemeriksaan dari petugas kesehatan hewan
Segera laporkan kematian ternak mendadak kepada dinas peternakan setempat
Gunakan alat pelindung diri (APD) saat menangani hewan atau produk hewan yang mencurigakan
Pastikan daging dimasak hingga benar-benar matang
Dukung program vaksinasi hewan ternak yang diselenggarakan pemerintah.
Oleh : dr. Ni Luh Wayan Fajar Yanti | Editor : Ni Gusti Made Dwi Kurnianingsih, SKM