Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 menghadirkan suasana yang berbeda di seluruh Bali. Selama 24 jam, aktivitas masyarakat berhenti total sebagai wujud pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Keheningan pun terasa nyata, termasuk di berbagai pintu masuk utama Bali seperti pelabuhan dan bandara yang biasanya dipenuhi aktivitas.
Di lingkungan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Denpasar, suasana pintu masuk turut mengalami perubahan signifikan. Area yang umumnya ramai dengan mobilitas pelaku perjalanan menjadi lengang tanpa aktivitas. Pelabuhan-pelabuhan utama di Bali seperti Padang Bai, Celukan Bawang, dan Gilimanuk—yang dikenal sebagai pelabuhan penyeberangan tersibuk di Indonesia—menghentikan seluruh operasionalnya selama Nyepi berlangsung. Tidak ada lalu lintas kapal, penerbangan, maupun aktivitas bongkar muat, termasuk di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, sehingga menciptakan suasana hening yang sarat makna refleksi.
Kondisi serupa juga terlihat di Pelabuhan Celukan Bawang yang biasanya melayani aktivitas logistik dan kapal niaga, serta Pelabuhan Gilimanuk yang setiap harinya menjadi simpul utama penyeberangan Jawa–Bali. Saat Nyepi, seluruh aktivitas di kedua pelabuhan tersebut berhenti total, mempertegas komitmen bersama dalam menghormati nilai-nilai spiritual dan budaya Bali.
Namun di balik keheningan tersebut, BBKK Denpasar tetap menjalankan peran strategis melalui Posko Terpadu Nyepi. Kegiatan pengawasan, pelayanan kesehatan, dan kesiapsiagaan tetap dilaksanakan secara optimal guna memastikan keamanan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga, terutama pada fase krusial sebelum, saat, dan setelah Nyepi.
Di wilayah kerja Pelabuhan Padang Bai, petugas BBKK Denpasar melakukan pengawasan intensif terhadap arus kapal dan penumpang menjelang Nyepi. Pada H-1, terjadi peningkatan aktivitas masyarakat yang melakukan perjalanan keluar Bali. Meskipun demikian, situasi tetap terkendali dengan arus yang lancar hingga keberangkatan terakhir kapal pada pukul 05.00 WITA. Setelah itu, pelabuhan berangsur sepi seiring dimulainya Nyepi.
Saat hari raya berlangsung, pelayanan umum memang dihentikan, namun layanan kedaruratan tetap disiagakan. Petugas BBKK tetap berada dalam kondisi siaga untuk merespons kebutuhan mendesak. Hal ini terlihat dari keberhasilan penanganan dua kasus rujukan pasien yang membutuhkan perawatan lanjutan ke rumah sakit rujukan. Proses evakuasi berjalan cepat, aman, dan lancar berkat koordinasi yang baik antara petugas lapangan dan fasilitas kesehatan tujuan.

Sementara itu, di Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, kesiapsiagaan petugas karantina kesehatan juga ditingkatkan. Pada H-1 Nyepi, lonjakan penumpang diantisipasi dengan peningkatan pengawasan dan pemeriksaan kesehatan. Saat Nyepi, meskipun operasional penerbangan dihentikan, petugas tetap siaga penuh untuk mengantisipasi kondisi darurat seperti evakuasi medis atau penerbangan khusus.
Memasuki H+1, aktivitas di bandara dan pelabuhan kembali meningkat signifikan. BBKK Denpasar memastikan kesiapan sumber daya manusia, peralatan medis, hingga ambulans agar pelayanan dapat berjalan optimal dalam menghadapi lonjakan mobilitas pasca-Nyepi. Selain aspek pelayanan, pelaksanaan Nyepi juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan lingkungan. Berhentinya aktivitas transportasi dan industri secara signifikan menurunkan polusi udara dan kebisingan. Kualitas udara menjadi lebih baik, konsumsi energi menurun, serta lingkungan mendapatkan kesempatan untuk “beristirahat”. Kondisi ini turut memberikan manfaat bagi kesehatan fisik dan mental masyarakat.
Secara keseluruhan, pelaksanaan Posko Nyepi Saka 1948 oleh BBKK Denpasar berjalan dengan aman, tertib, dan lancar. Sinergi antara pengawasan, pelayanan kesehatan, dan kesiapsiagaan darurat menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga stabilitas situasi, bahkan di tengah keterbatasan aktivitas. Momentum Nyepi tidak hanya menjadi refleksi spiritual, tetapi juga menunjukkan bahwa dalam keheningan, pelayanan publik tetap hadir. BBKK Denpasar membuktikan komitmennya untuk selalu siaga melindungi kesehatan masyarakat, menjaga harmoni antara manusia, lingkungan, dan nilai budaya Bali.
Reporter : Anto Juliasta Ginting, I Made Parnawa, I Putu Arimbawa | Editor : Fajar Isnaini, SKM